KISAH POLISI YANG MENILANG MANTANNYA

Priitttt.......!! Priiiiitt....

"Tolong tunjukkan SIM nya!" Kata seorang Polantas setelah menghentikan sebuah mobil yang menerobos lampu merah.

Dengan wajah kesal si pengemudi berkata : "Maaf pak, saya tahu saya salah, tapi tolong pak jangan ditilang, saya sedang buru-buru karena anak saya ulang tahun hari ini". Sambil cemas pengemudi yang bernama Lusi itu menatap wajah polisi tersebut yang ternyata adalah mantan pacar semasa SMA nya dulu.

"Lho.. bukankah kamu si Adi..?? Kita pacaran dulu pas SMA, masih ingat tidak...!!"
Sambut Lusi dengan nada lega.

Tapi Adi si Polisi tersebut hanya tersenyum sambil tetap bersikukuh meminta SIM si Lusi.

Dengan kecewa Lusi pun memberikan SIM nya kemudian langsung masuk ke dalam mobil & menutup kaca pintunya rapat-rapat.
Sementara Adi menulis sesuatu di kertas tilangnya. Beberapa saat kemudian, Adi mengetuk kaca pintu mobil Lusi.

Sambil memandangi wajah Adi penuh kecewa, Lusi pun membuka kaca pintu mobilnya, hanya sedikit, hanya cukup untuk selipkan kertas tilang aja.
ADI pun memberikan kertas lewat kaca yang terbuka yang hanya sekitar 2 cm itu lalu pergi tanpa kata.

Lusi pun kembali menjalankan mobilnya dengan tergesa-gesa.
Sambil menggerutu kesal, dia membuka kertas tersebut, tapi...
"Hei, apa ini? Kenapa SIM saya dikembalikan.. Dan ini kertas apa..??" Gumam Lusi.

Segera Lusi membuka kertas pemberian Adi tersebut, dan ternyata Adi tidak menilangnya, tapi justru menulis surat yang isinya :

"Hai Lusi..
Kau tahu, dulu saya juga punya anak. Cuma satu-satunya..
tapi meninggal karna ditabrak orang yang menerobos Lampu Merah. Pengemudinya hanya dihukum 3 tahun. Setelah bebas ia dapat berkumpul dan bisa memeluk anaknya lagi.

Sementara saya...
Saya tidak lagi dapat melihat apalagi memeluk anak saya.
Beribu kali saya mencoba untuk memaafkan si pengemudi itu tapi tidak bisa.
Maafkan saya Lusi, hati-hati di jalan. Titip salam buat keluargamu..
Dan selamat ulang tahun buat anakmu!

LUSI pun serta merta menghentikan mobilnya dan berlari kembali ke tempat di mana tadi sang sahabat menilangnya, tapi Adi sudah tidak ada di Pos nya lagi.

Sepanjang jalan perasaan hati Lusi tak menentu, berharap kesalahannya dapat dimaafkan.

NB : Hikmah cirita diatas Kawan.....
Tidak selamanya pengertian kita sama dengan pengertian orang lain. Terkadang SUKA kita justru DUKA buat orang lain.
Kalau anda sayang dengan orang yang di sekitar anda, berbagilah cerita ini.

Selalu berhati-hatilah di jalan, jangan mudah emosi dan slalu waspada karena jalan raya bukan buat kita saja..
40 km/jam itu sudah cukup cepat bukan..??
HATI-HATILAH.. KARENA KELUARGA DI RUMAH MENANTI KEDATANGAN ANDA...

(Semoga bermanfaat).

Sumber : Pesbuknya Bang Wandy Wahyudi (Pengusaha Muda)

Melek Politik, Melek Sastra

Di masa orde baru, membahas perkara yang berbau politik adalah tabu dan menakutkan. Orang-orang yang berkumpul dan berdiskusi sudah pasti dibuntuti. Bila dicurigai singgung-sungging penguasa, akan diamankan. Ngeri!

Maka, saat reformasi meletus tahun 1998, arus massa sulit dibendung. Suara-suara yang dahulu bungkam, serentak mericau. Lega dan merdeka. Momentum perlawanan disulut dengan mudah. Tembok besar yang berpuluhtahun dikoloni rezim orba, koyak seketika.

Selamat datang reformasi! Panggung kebebasan dan momentum berdemokrasi dengan bising. Pers bebas meraja. Rakyat pun bebas berserikat dan berorganisasi, kran radikalisasi pun ikut-ikutan. Kata kuncinya liberalisasi alias kebebasan. Dalam bahasa yang lain, reformasi adalah fase berdemokrasi secara paripurna. Sejak itu, kita lupa satu hal, demokrasi bersaudara kandung dengan kapitalisme.

Demokrasi dalam terminologi yang dibangun di Barat dicangkok di republik ini. Di semua aspek kehidupan, turunan dari nilai-nilai demokrasi seperti transparansi, akuntabilitas, e-budgeting (dan e lainnya) dipakai sebagai roh dalam aktivitas pengelolaan birokrasi negara. Hasilnya, korupsi menggunung.

Kontestasi politik (pilkada, pemilu, bahkan pilpres) adalah parodi yang mempertontonkan drama transaksional. Di dalamnya subur ‘politik sembako’ dan ‘politik uang’. Rakyat seperti balas dendam pada politikus, negara diam-diam kewalahan mengatasi kecurangan berdemokrasi.

Atas nama demokrasi, peluang sengketa politik disiapkan melalui jalur MK. Dan benalu demokrasi tidak pernah tuntas diselesaikan. Pola kecurangan dan black campaign di daerah tertentu, diadopsi di pilkada yang lain. Tragis.

Tapi, dengan segala kebesaran hati, kita melegitimasi kalimat ini: "demokrasi kita masih seumur jagung dan dalam proses pendewasaan". Semua jadi termaklumi seketika. Anggota senator yang adu jotos di parlemen anggap saja sedang latihan drama. Gurita korupsi yang menyeret nama-nama besar di parlemen anggap saja kecelakaan politik.

Pada saat yang sama, kita seperti kehilangan harapan, pada siapa dan institusi mana hak-hak politik kita bisa diperjuangkan. Lalu, kapan para koruptor itu dihukum seberat-beratnya agar suatu masa semakin sedikit yang berani korup lagi, bahkan seandainya KPK tak ada sekalipun, kita tidak pernah tahu.

Tiga tahun rezim Jokowi-JK, harapan perubahan memang terasa ada. Perbaikan pelayanan publik utamanya pendidikan dan kesehatan, harus diakui lebih baik dari sebelumnya. Budaya birokrasi mulai berubah, lebih profesional dan berorientasi pada kepuasan publik. Tetapi, secara jujur, bangsa sedang disesaki banyak masalah. Dua hal yang paling mengancam, pertama perilaku kekerasan dan kriminalitas mewabah dan meluas di mana-mana; kedua, ketegangan politik berbau SARA yang berpotensi mengganggu stabilitas nasioal.

Namun, pemerintahan Jokowi-JK lebih fokus pada pembenahan infrastuktur di mana-mana. Visinya menarik, membangun Indonesia dari pinggiran. Suara sumbang pun bermunculan, "mana itu revolusi mental?" Wajar saya kira. Toh, mentalitas elit politik kita akhir-akhir ini mendekati titik nadir. Arus kepentingan saling bersilangan dengan konstalasi yang rumit digambarkan.

Nyaris tidak ada lagi semacam upaya konsolidasi bebas kepentingan yang dapat melebur warna-warni partai. Kepentingan memang abadi, kalimat klasik ini pantas diulang-ulang. Tapi, yang amat tragis adalah pola pergesekan dan pertarungan kepentingan itu berlangsung vulgar dan mengebiri prinsip dan ideologi berbangsa.

Republik terasa kiang tumbang. Ibarat sebuah rumah yang akan roboh, pilihannya dua kini, menjauh dari rumah tersebut agar tak terkena reruntuhannya, atau berada di bawahnya dengan tetap berupaya menahan dengan sekuat tenaga agar rumahnya tak roboh. Tentu dengan konsekuensi mengerikan, tertimbun dalam penderitaan panjang ditelan reruntuhan (meminjam pernyataan politisi kawakan tanah air).

Di tengah demokrasi yang semakin memuakkan ini, wajarlah bila kita disesaki kicauan dengan narasi yang sarkas, barbar, gila, sinis, dan berontak-tontak di laman media sosial. Ibaratnya, tubuh kita disiksa, tapi mulut kita dibebaskan menikmati rasa sakit dan marah.

Rakyat sedang melek politik dan demokrasi kita sedang bertumbuh. Rakyat bahas politik di mana-mana. Warung kopi jadi tempat meluruhkan segala isi kepala. Diskusi dan obrolan politik sambung-menyambung seperti peta pulau-pulau di Indonesia. Bising, ramai, sekaligus menggelikan. Bersiaplah, lebih separuh anak cucu kita terobsesi jadi politikus. Modalnya hanya pandai bersilat lidah.

Lalu? Politisi juga harus melek sastra. Kita semua harus mulai membaca sastra agar hati dan jiwa lebih manusiawi lagi. Dengan begitu, kita dapat memulai cara berdemokrasi yang menggunakan hati. Bila tidak, suatu saat nanti kita akan mengutuk demokrasi sebagai jalan sesat (meminjam istilah Radhar Panca Dahana). Karena liberalisasi telah membuat kita semua kesurupan mau berkuasa dan saling bertarung memperebutkan modal kuasa (seperti binatang di belantara). Sementara yang lemah terus pasrah dan merajut dalam ketakberdayaanya.


Sumber: Pesbuknya Bang Anis Kurniawan, Penikmat sastra dan politik, penulis buku Demokrasi di Sarang Penyamun

Untuk mereka yang mau bersusah payah merobohkan tembok besar rezeki

Bukan Soal BAKAT, tapi Soal MENTAL!

Dagang itu bukan perkara laku sedikit atau banyak

Dagang itu tentang mental

Mental bahwa dagang tak selalu laku
Mental bahwa dagang tak selalu mulus
Mental bahwa dagang Kadang sepi pembeli
Mental bahwa dagang kadang menghadapi kerugian

Seni berdagang tetap indah,
Saat laku deras, sederas air hujan, 
atau saat sepi kering, sekering kerontang.

Tetap jalani bagaimanapun Allah menentukan takdir-Nya

Yang harus terus diyakini adalah,,,

Inilah jalan nafkah,,
yang terkandung berlimpah berkah di dalamnya

Inilah jalan nafkah,,
Yang Rasul dan para Sahabat melakukannya

Inilah jalan nafkah,,
Yang 9 pintunya terbuka
Untuk mereka yang mau bersusah payah

Yang harus diingat,,
Harta hasil dagang, bukan kekayaan apa yang bisa kita belanjakan,
sebanyak apa harta yang dapat dikumpulkan

Tapi...
Sebesar apa dari harta itu bisa bermanfaat untuk membahagiakan orang lain

Karena kebahagiaan,
hakikatnya adalah saat kita mampu membahagiakan orang lain...

Semakin banyak uang yang kita kumpulkan semakin banyak orang yang bisa kita bahagiakan...

Jadi...
Teruslah berdagang
Teruslah memburu omzet,

Sedikit banyak hasil yang di dapat tetap indah, karena itu adalah seni berdagang..
Selamat berniaga krn Tuhan menurunkan rejeki lebih banyak di niaga daripada t4 kerja lain...!

Wassalam...!.


Sumber: Pesbuknya Puang Tamo (Legislator dan Pengusaha)

Dialah Laki-laki

LAKI-LAKI adalah ciptaan TUHAN yg paling indah.
Dia banyak MENGALAH dari umur yang sangat muda.

Dia membelanjakan semua duit,
untuk beli HADIAH, untuk yang dia CINTA,
hanya untuk melihat
dia TERSENYUM..

Dia KORBANKAN masa lajangnya hanya untuk
seorang WANITA....
Dia KORBANKAN masa mudanya 

demi istri dan anak2nya dengan bekerja sampai malam 
TANPA MENGELUH.

Dia bina MASA DEPAN
mereka Sekeluarga
dengan hutang
dan membayar cicilan
sampe stress..

Dia telah bersusah payah
tapi masih dimarahi Isteri
dan BOSS. Kehidupan Dia
berakhir hanya untuk
MENGALAH demi
KEBAHAGIAAN orang lain

Kalau dia keluar rumah,
kata org dia NGELAYAP...

Kalau dia tinggal dirumah,
kata org dia MALAS....

Kalau dia marahi anak2,
kata org dia GALAK...

Kalau dia tak marah, kata Org
dia laki-laki yang TAK TEGAS...

Kalau dia tak bolehkan isteri bekerja, kata org dia Seorang yang MENGUNGKUNG...

kalau dia bolehkan isteri
bekerja, kata org dia MAKAN
gaji isteri.

Kalau dia dengar apa kata ibunya, kata org dia ANAK MAMI

Kalau dia dengar kata isteri,
kata org dia DKI
(Dibawah Ketiak Istri)

Kalau dia banyak MENOLONG wanita yg membutuhkan, dibilang HIDUNG BELANG...

Kalau gak mau tolong
wanita lain, katanya KEJAM..

Tapi di tengah terpaan
segala macam tuduhan,
dia tetap TEGAR....
(Never Give Up ugh..!)

Dialah LAKI-LAKI....

HARGAILAH setiap LAKI-LAKI
dalam hidup anda.
Anda tidak akan pernah
tahu apa PENGORBANAN yang
sudah dilakukan buat Anda.

Sumber: Facebooknya bang Nur Syafar 


bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Baca Juga:

 
Design by IPNER